Apa yang engkau Sukai dari seorang Wanita /Pria ? (Jujur Lah dalam memilih)

Jumat, 02 Agustus 2013

Kisah Sahabat Rasulullah . Nu' aiman (Sang Pelawak)





Bila dalam sebuah gerakan dakwah ada seorang atau beberapa orang aktifis dakwah yang “doyan ngocol” alias gemar bercanda, nyeletuk, atau melawak, janganlah buru-buru divonis bahwa yang bersangkutan tidak layak menjadi seorang da’i. Apalagi sampai dikucilkan atau dikeluarkan dari barisan dakwah.Aktifis dakwah yang memiliki gaya “ngebodor” seperti itu memiliki segmen audiens tertentu. Ada penggemarnya. Oleh karena itu, mereka justru perlu dioptimalkan untuk memperluas jaringan dakwah. Agar dakwah dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat.Para sahabat Nabi Saw. dan orang-orang yang mengikuti mereka (para tabi’in) adalah sebaik-baik generasi, namun mereka juga tertawa dan bergembira karena mengikuti petunjuk Nabinya. Sampai orang seperti Umar bin Khaththab ra. yang terkenal kerasnya, juga pernah bergurau dengan budaknya. Umar ra. mengatakan kepada budaknya, “Aku diciptakan oleh Pencipta orang-orang mulia, dan engkau diciptakan oleh Pencipta orang-orang durhaka!” Ketika Umar melihat budaknya sedih karena kata-kata itu, maka Umar menjelaskan dengan mengatakan, “Sesungguhnya tidak ada yang menciptakan orang-orang mulia dan orang-orang durhaka kecuali Allah ‘Azza wa Jalla.”Sebagian sahabat ada yang bersenda gurau dan Rasulullah Saw. pun membiarkan dan menyetujui. Hal seperti ini terus berjalan setelah Rasul Saw. wafat. Semua itu diterima oleh para sahabat, tidak ada yang mengingkari.Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Abi Salamah bin Abdir Rahman, ia berkata, “Sahabat Rasulullah Saw. bukanlah orang-orang yang serius terus-menerus, bukan pula orang-orang yang bermalas-malasan (yang tidak bergerak), tetapi mereka itu sering bersenandung dengan puisi-puisi (syair-syair), dan mengingat masa-masa jahiliyah mereka(“Al Mushannaf”, Ibnu Abi Syaibah).Ibnu Sirin pernah ditanya tentang kebiasaan para sahabat, “Apakah mereka itu juga bergurau? Beliau menjawab, “Mereka tidak lain adalah manusia biasa seperti umumnya manusia, seperti Ibnu Umar, beliau sering bergurau dan bersenandung dengan syair.” (HR. Abu Nu'aim di dalam Al Hilyah: 2/275).Di antara sahabat yang terkenal sering bergurau adalah Nu’aiman bin Umar Al-Anshari ra., yang telah diriwayatkan darinya beberapa keistimewaan yang aneh dan menakjubkan. Beliau termasuk orang yang ikut berbai’ah ‘Aqabah kedua, pernah ikut perang Badar dan Uhud, Khandaq dan seluruh peperangan yang ada.Zubair bin Bakkar telah meriwayatkan sejumlah keanehan-keanehan yang langka tetang Nu’aiman dalam kitabnya “Al Fukahah wal Marakh”. Ia berkata, “Suatu ketika Nu’aiman datang ke Madinah dan membawakan sesuatu untuk Rasulullah Saw. yang diambilnya dari salah seorang pedangang di Madinah. Nu’aiman berkata, “Ini aku hadiahkan untukmu wahai Rasulullah.” Tiba-tiba seseorang datang kepadanya untuk menagih uang pembelian barang tersebut. Saat itu juga si penjual dibawa kepada Nabi Saw. Nu’aiman berkata, “Wahai Rasulullah Saw. berikan kepada orang ini uangnya (harga barangnya).” Nabi berkata, “Bukankah kamu telah menghadiahkan kepadaku?” Nu’aiman berkata, “Demi Allah, saya tidak mempunyai uang untuk membelinya, tetapi saya ingin engkau memakannya, maka Rasulullah Saw. tertawa dan memerintahkan untuk memberikan uangnya kepada si penjual."Demikianlah ulah Nu’aiman ketika “ngerjain” Nabi Saw. Namun, perhatikanlah, Rasulullah Saw. tidak marah kepadanya, malahan tersenyum. Ini membuktikan bahwa Nabi Saw. tidak pernah melarang umatnya untuk humor, sepanjang humor itu tidak melanggar syariat.Pada kesempatan lain, Nu’aiman pun pernah “dikerjain” oleh beberapa sahabatnya. Zubair bin Bakkar meriwayatkan dari Rabi’ah bin Utsman, ia berkata, “Ada seorang Badui masuk ke rumah Rasulullah Saw. dan mengikat untanya di halaman, maka berkata sebagian sahabat kepada Nu’aiman Al-Anshari, “Bagaimana kalau kamu sembelih unta ini, lalu kami memakannya, sesungguhnya kami ingin sekali makan daging, maka Nu’aiman pun melakukannya, sehingga orang Badui itu keluar dari rumah Nabi Saw. dan berteriak, “Untaku disembelih, wahai Muhammad!” Maka Nabi Saw. keluar, lalu berkata, “Siapa yang melakukan ini?” Mereka menjawab, “Nu'aiman.”Ada seorang yang memberi tahu Nabi Saw. di mana Nu’aiman bersembunyi. Maka Nabi Saw. pun mencarinya dan menemukan Nua’iman sedang bersembunyi di sebuah gubuk kecil beratap daun kurma milik Dhaba’ah binti Zubair bin Abdul Muththalib. Nabi Saw. mengeluarkannya dan bertanya, “Apa yang mendorong kamu untuk berbuat demikian?” Nu’aiman berkata, “Mereka yang memberitahu engkau wahai Rasulullah, yang menyuruh aku untuk berbuat demikian.” Setelah itu Nabi Saw. membersihkan debu yang ada di wajahnya dan tertawa. Rasulullah Saw. kemudian mengganti unta milik orang Badui tersebut.Ulah Nu’aiman bukan cuma itu. Ada lagi kelakuannya yang menurut pandangan kita saat ini, mungkin keterlaluan. Zubair bin Bakkar juga berkata, “Pamanku telah menceritakan kepadaku dari kakekku, kakekku berkata, “Makhrumah bin Naufal telah mencapai usia 115 tahun, maka ia berdiri di masjid ingin kencing, sehingga para sahabat berteriak, “Masjid! Masjiiiid! Maka Nu’aiman bin ‘Amr menuntunnya dengan tangannya, kemudian ia membungkuk dengan membawa orang itu di bagian lain dari masjid. Setelah itu Nu’aiman berkata kepadanya, “Kencinglah di sini,” maka para sahabat berteriak lagi dan Makhrumah berkata, “Celaka kalian! Siapakah yang membawaku ke tempat ini?” Mereka menjawab, “Nu’aiman.” Makhrumah berkata, “Sungguh jika aku beruntung aku akan memukulnya dengan tongkatku!” Maka berita itu sampai pada Nu’aiman, lalu Nu’aiman tinggal beberapa hari, kemudian datang kepada Makhrumah, sedangkan Utsman sedang shalat di bagian pojok masjid. Maka Nu’aiman berkata kepada Makhrumah, “Apakah kamu menginginkan Nu’aiman? “Makhrumah menjawab, “Ya,” maka Nu’aiman menuntunnya sehingga berhenti di hadapan Utsman (yang sedang shalat), dan Utsman kalau shalat tidak pernah menengok, maka Nu’aiman berkata. “Di depanmu itu Nu’aiman.” Maka Makhrumah memukulkan tongkat itu kepada Utsman sehingga Utsman pingsan, maka para sahabat berteriak kepadanya, “Apakah engkau tega memukul Amirul Mukminin.Di antara kisah yang menarik adalah ada sahabat lainnya yang juga termasuk ahli melawak. Ia berhasil menjerumuskan Nu’aiman di dalam suatu masalah, sebagaimana Nu’aiman menjerumuskan orang lain. Yakni dalam kisah Suwaibith bin Harmalah dengan dia. Orang ini termasuk orang yang ikut perang Badar juga.Ibnu Abdil Barr dalam kitabnya “Al Istii'aab” berkata, “Suwaibith Ra. adalah seorang tukang melawak, berlebihan dalam bermain-main dan ia memiliki kisah menarik dengan Nu’aiman dan Abu Bakar As-Siddiq Ra. sebagai berikut,Diriwayatkan dari Ummu Salamah, ia berkata, “Abu Bakar As-siddiq Ra. pernah keluar berdagang ke Bushra satu tahun sebelum Nabi Saw. wafat. Bersama Abu Bakar adalah Nu’aiman dan Suwaibith bin Harmalah, kedua-duanya pernah ikut perang Badar. Saat itu Nu’aiman membawa bekal makanan, maka Suwaibith berkata kepadanya, “Berilah aku makan.”Nu’aiman berkata, “Tidak, hingga datang Abu Bakar Ra.,” Suwaibith berkata, “Ingat, demi Allah aku akan benar-benar marah kepadamu.” Ketika mereka berjalan melewati suatu kaum, maka Suwaibith berkata kepada kaum itu, “Apakah kalian mau membeli budak dariku?” mereka berkata, “Ya, mau.” Suwalbith berkata, “Tetapi budakku itu doyan ngomong, dan dia akan berkata kepadamu, “Saya merdeka,” karena itu jika ia mengatakan demikian maka biarkanlah, dan jangan kalian rusak budakku.” Mereka menjawab, “Kita beli saja dari kamu.” Suwaibith berkata, “Belilah dengan sepuluh qalaish.” Maka kaum itu datang dan meletakkan di leher Nu’aima sorban atau tali, dan Nu’aiman berkata, “Sesungguhnya ia (Suwaibith) itu menghina kamu, karena aku adalah orang yang merdeka dan bukan budak.” Mereka berkata, “Dia (Suwaibith) telah memberi tahu kepadaku tentang engkau.” Maka kaum itu membawa Nu’aiman. Sampai saat datangnya Abu Bakar Ra., maka Suwaibith memberitahu kepadanya perihal Nu’aiman, lalu Abu Bakar mengikuti mereka dan mengganti uang sepuluhqalaish dan mengambil kembali Nu’aiman. Ketika datang ke hadapan Nabi Saw. mereka pun menceritakannya, maka Nabi tersenyum, demikian juga para sahabatnya karena kisah ini, selama satu tahun.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan lbnu Majah).Wallahu a’lam bishshawab


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kritik dan saran